Penjelasan Awal Mula Munculnya Sifat "Berbohong" dalam Evolusi Mahluk Hidup.


Penjelasan Awal Mula Munculnya Sifat "Berbohong" dalam  Evolusi Mahluk Hidup.

by : Aria Ratmandanu
 

                   






















   Mesin kelestarian (Mahluk hidup) awalnya merupakan wadah gen yang pasif, wadah itu menyediakan sekadar dinding perlindungan bagi gen dari serangan kimiawi lawan-lawan mereka dan dari kehancuran akibat tabrakan molekul secara acak. Gen adalah pemrogram utama, dan dia memprogram demi kelangsungan hidupnya. Gen dinilai berdasarkan keberhasilan programnya dalam menghadapi semua bahaya yang dihadirkan oleh kehidupan terhadap mesin kelestariannya. Kita nanti akan membahas cara cara kelangsungan hidup gen didukung oleh oleh apa yang tampak sebagai perilaku altruistis. Tapi prioritas utama mesin kelestarian , dan otak yang mengambil keputusan untuk itu, adalah persoalan kelangsungan hidup individu dan reproduksi. Semua gen dalam "koloni" bakal menyetujui prioritas-prioritas tersebut. Oleh karena itu hewan-hewan melakukan segalanya demi mnemukan dan menangkap makanan, menghindari ditangkap dan dimakan pemangsa, menghindari penyakit dan kecelakaan, melindungi diri dari kondisi iklim yang tidak menguntungkan.  Namun saya ingin menyebutkan satu jenis perilaku tertentu karena kita akan perlu merujuk padanya lagi bila kita bicara tentang altruisme dan egoisme. Iinlah perilaku yang secara luas dinamai komunikasi.

                     Suatu mesin kelestarian bisa dikatakan telah berkomunikasi dengan mesin kelestarian lain bila tindakan itu mempengaruhi perilakunya dan kondisi sistem sarafnya, contoh komunikasi sangat banyak : bunyi burung, katak, dan jangkrik, ekor bergoyang goyang dan rambut berdiri pada anjing, "seringai" pada simpanse, gerakan tubuh dan bahasa manusia. Sjumlah besar tindakan mesin kelestarian memajukan kesejahteraan gen-nya secara tidak langsung dengan mempengaruhi perilaku mesin kelestarian lainnya. Hewan hewan melakukan begitu banyak cara untuk membuat komunikasi efektif. Kicau burung mempesona dan menyihir generasi demi generasi manusia. Lebah menari dalam gelap untuk memberikan informasi yang akurat kepada lebah lain tentang arah dan jarak makanan, suatu pencapaian komunikasi yanghanya dapat disaingi oleh bahasa manusia. 

                     Secara tradisional pakar etologi menganggap bahwa sinyal komunikasi berkembang demi kepentingan bersama baik pengirim maupun penerima. Misalnya, anak ayam mempengaruhi perilaku ibunya dengan berbunyi nyaring ketika tersesat atau kedinginan. Bunyi anak ayam bisasanya memiliki efek langsung memanggil induk, yang lantas membimbing anak ayam kembali ke kawanannya. Perilaku itu bisa dikatakan berkembang demi kepentingan bersama dalam arti bahwa seleksi alam mendukung anak ayam yang menciap ketika terpisah dari rombongan, juga induk ayam yang menanggapi ciapan dengan tepat. Kita dapat menganggap bahwa sinyal seperti ciapan diatas memiliki makna atau membawa informasi: dalam kasus ini "Saya tersesat". Peringatan tanda bahaya yang diberikan oleh burung burung, bisa dikatakan menyampaikan informasi "Ada Elang" . Hewan yang menerima informasi tersebut dan bertindak berdasarkan itu diuntungkan. Oleh karena itu, informasi itu informasi itu dapat dikatakan benar, Tapi apakah hewan pernah mengkomunikasikan informasi palsu: Apakah benar hewan pernah berbohong ?.

                       Gagasan bahwa hewan berbohong sering disalah pahami, maka saya harus mencoba mengantisipasinya. Dalam suatu kuliah yang diberikan oleh Beatrice dan Allen gardner tentang simpanse mereka yang terkenal bisa berbicara, Washoe (menggunakan bahasa isyarat Amerika dan kemampuan itu berpotensi sangat menarik minat mahasiswa bahasa). Dalam suatu diskusi setelah kuliah mereka sangat bersemangat dengan pertanyaan apakah Washoe bisa berbohong ?. Dalam artikel ini saya menggunakan kata kata "memperdaya" dan "berbohong" dalam arti yang jauh lebih lugas dibandingkan dengan yang dimaksud para filusuf. Mereka tertarik dengan niat sadar untuk menipu. Saya hanya berbicara tentang efek yang secara fungsional setara dengan tipu daya. Jika burung menggunakan sinyal "ada elang" ketika benar benar tidak ada elang sehingga membuat teman temannya kabur ketakutan, meninggalkan burung itu untuk menghabiskan semua makanan mereka, kita bisa mengatakan bahwa dia berbohong. Kita tidak akan bermaksud mengatakan bahwa si burung secara sengaja berniat melakukan tipu daya. Yang tersirat adalah bahwa si burung pembohong memeperoleh makanan dengan mengorbankan burung-burung lain, dan alasan burung lain terbang menjauh adalah karena mereka bereaksi atas pekikan si pembohong yang seolah menandakan kehadiran elang. 

                        Banyak serangga yang dapat dimakan, seperti kupu kupu, memperoleh perlindungan dengan meniru penampilan luar serangga lain yang rasanya menjijikan atau yang berbau menyengat. Kita sendiri sering tertipu dan menyangka bahwa lalat kibar yang bergaris kuning hitam adalah lebah. Beberapa lalat peniru lebah bahkan lebih sempurna tipu dayanya. Pemangsa juga menipu. Ikan sungut Gada menunggu dengan sabar di dasar laut, membaur dengan lingkungan sekitar. Satu-satunya bagian tubuhnya yang mencolok adalah secuil daging yang meliuk seperti cacing diujung "kail" yang panjang, mencuat dari garis kepala. Bila ikan mangsa kecil datang mendekat sungut gada akan membuat umpannya yang mirip cacing menari didepan si ikan kecil dan memikatnya hingga turun kedaerah mulut yang tersembunyi, tiba tiba ikan sungut gada membuka rahangnya, lalu ikan kecil tersebut masuk dan dan dilahap. Ikan sungut gada melakukan tipu daya, memanfaatkan kecenderungan ikan kecil untuk mendekati benda yang menggeiat seperti cacing. Ikan sungut gada berkata. "Ini ada cacing" dan ikan kecil manapun yang "percaya" dimangsa dengan cepat. 

                      Kunang Kunang (yang sebetulnya adalah kumbang) menarik pasangan dengan mengedip-ngedipkan cahaya. Setiap spesies memiliki pola kelip pendek panjang tersendiri sehingga menghindarkan  kebingungan pengenalan antar spesies dan konsekuensi hibridisasi yang berbahaya. Sama seperti pelaut yang melihat pola-pola kiasan lampu mercusuar tertentu, demikian juga kunang kunang mencari kode pola kelip spesiesnya sendiri. Betina genus Photuris "menemukan" bahwa mereka dapat memikat pejantan genus Photinus jika menirukan kode kedipan cahaya Photinus betina. Ini yang mereka lakukan. Kala Photinus jantan tertipu dan datang mendekat, secepat kilat ia dimakan oleh Photirus betina. Nyanyian Lorelei mengkin terlintas dalam pikiran, tapi orang Cornwall, Inggris, pasti lebh teringat dengan cara-cara penjarah kapal pada masa lalu, menggunakan lentera untuk memikat kapal hingga mendekat ke karang karang kemudian menjarah barang barang yang tumpah keluar dari kapal yang kandas.

                            Bila suatu sistem komunikasi berkembang, selalu ada bahaya bahwa sebagian pihak akan mengeksploitasi sistem itu untuk kepentingannya sendiri. Kalau memegang pandangan Evolusi demi "kebaikan spesies", tentu kita menyangka bahwa pembohong dan penipu adalah spesies yang berbeda: pemangsa buruan, parasit, dan sebagainya. Namun kita tak perlu heran bila kebohongan, tipu daya dan eksploitasi komuniakasi muncul kapan saja kepentingan gen individu yang berbeda beda berpisah jalan. Ini akan mencakup individu-individu spesies yang sama. Seperti yang akan kita lihat, bahkan bisa saja anak-anak akan menipu induk, suami menghianati istri, dan saudara sekandung saling membohongi. 

                            Bahkan kepercayaan bahwa sinyal komunikasi hewn awalnya berevolusi demi kepentingan bersama dan kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang berniat buruk adalah kepercayaan yang terlalu sederhana. Bisa jadi semua komunikasi hewan mengandung unsur tipu daya sejak awal karena semua interaksi hewan melibatkan setidaknya melibatkan suatu konflik kepentingan. Nah terimakasih sudah menyimak penjelasan dari saya, artikel saya selnjutnya dalah tentang ESS (Evolutionary Stable Strategy), Strategi Evolusi yang stabil. 













Komentar

Postingan Populer